Balinese NU-Abstract


Adakah Seni Lukis Abstrak di Bali? Perlukah pertanyaan tersebut diajukaan dalam kita memahami adanya seni lukis abstrak di Indonesia, Selama ini kita mengenal "perseteruan" dua kubu dalam seni lukis abstrak nasional. Bandung dan Yogyakarta. Lalu bagaimana posisi senirupa Bali saat itu dengan maraknya seni lukis Abstrak di Indonesia? Seniman-seniman yang tergabung didalam NU Abstract melakukan upaya investigasi tentang keberadaan seni lukis abstrak di Bali yang tentu saja keberadaannya tidak lepas dari seni lukis nasional. Lalu apa yang ditawarkan NU Abstract sebagai kelompok pelukis abstrak dari Bali dalam melihat Lukisan abstract di Indonesia saat ini.

Belakangan ini permasalahan global terkait sistem dan struktur sosial masyarakat mengalami berbagai benturan yang mengakibatkan perubahan, tidak sedikit yang kemudian mengerucut baik dengan sadar ataupun tanpa sadar menggiring kepada perang kebudayaan, Hal tersebut dipicu dengan adanya kekuatan politik atau munculnya kekuatan ekonomi baru yang berdampak pada situasi global.

Dampak tersebut menyerang dan menteror secara halus prinsip-prinsip dan unsur kebudayaan wangsa lain. Bangsa Indonesia termasuk didalamnya yang terkena imbas dari munculnya perang kebudayaan tersebut, dan buat bangsa ini imbas dari perang kebudayaan itu bukanlah suatu hal yang baru.Terjadi dimasa-masa sejarah adanya bangsa ini secara merata dari masa ke masa, salah satunya Bali. Bali adalah salah satu yang mengalami pasang surutnya pergolakan perang kebudayaan tersebut, upaya bongkar pasang identitas Bali terjadi dengan sangat dinamis itu juga mempengaruhi perjalanan seni rupa di Bali.

Bali dalam sejarahnya mengalami beberapa kali upaya serangan kebudayaan, salah satu yang begitu masif digerakkan dan berlangsung hingga kini  adalah saat Bali menjadi daerah koloni pemerintah Hindia Belanda. Di jaman kolonial inilah dikenal istilah Baliseering, yaitu suatu konsep sistematis kebudayaan untuk "mem-Bali-kan" Bali sebagai upaya memisahkan identitas Bali dengan wilayah lain di Hindia belanda, saat itu terjadi pembentukan citra Bali, sebuah era dimana para pejabat kolonial, seniman, kaum bohemian, petualang, peneliti antropolog berkunjung dan menetap di Bali untuk mempelajari dan meneliti Bali sampai akhirnya mereka bisa mendapatkan "Bali", kemudian

mereka mulai mendokumentasikan Bali dalam berbagai tulisan, membuat film, mendirikan perusahaan pariwisata, mempromosikan Bali kepada dunia.
Upaya ini membawa pemerintahan kolonial yang sebelumnya memiliki citra negatif dan memalukan di dunia barat buah akibat "pembantaian"  dalam beberapa kali tragedi puputan, berangsur mendapatkan penilaian positif di dunia Barat, Bali sebagai Surga terakhir menjadi viral kala itu.

Dimasa kemerdekaan dan era orde lama 1950-1960an, politik kebudayaan yang digagas oleh Bung Karno juga menggunakan Bali sebagai salah satu "alat" identitas "melawan" barat, Bung Karno begitu aktif untuk datang ke Bali, berinteraksi dengan seniman bali dan mengkoleksi lukisan-lukisan mereka, Sederet nama seniman besarjuga mulai datang ke Bali, sebut saja Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Lee Man Fong, Basuki Abdullah dll. Bagaimana dengan seniman Bali? Sebetulnya kedatangan seniman bali ke Jawa pernah dirintis oleh I Nyoman Ngendon ditahun 1940an, pengalaman bertemudengan seniman di Jawa (Sujojono dan Affandi) yang tergabung didalam PERSAGI mempengaruhi I Nyoman Ngendon berideologi nasionalis menentang kolonialisme, hal tersebut tergambar jelas dalam tema-tema lukisannya.

I Nyoman Ngendon yang berpangkat Letnan Dua itu tewas bersama teman dekatnya Ida Bagus Made Jatasura yang juga seorang seniman bali dalam sebuah operasi penangkapan tentara NICA di tahun 1947. Gugurnya I Nyoman Ngendon juga membuat terputus interaksi antara seniman Bali dan seniman Jawa. Tahun 2012 kelompok Neopitamaha mengivestigasi ulang pemikiran I Nyoman Ngendon agar tidak hilang dan bisa digunakan dalam skena senirupa Bali saat ini.
Selepas 1960an relasi seniman bali dengan seniman jawa mulai terjalin kembali, terutama dengan semakin banyaknya seniman muda bali yang menempuh pendidikan seni di jawa. Salah satu tokoh penting generasi seniman muda saat itu adalah I Nyoman Tusan (1933-2002).

Gaya Abstrak Ekspresionis-nya banyak dipengaruhi oleh rekan-rekannya sesama lulusan seni rupa ITB, hanya saja latar belakang ke-Bali-annya ia ikut sertakan didalam karya-karyanya, unsur-unsur visual khususnya pola figuratif/dekoratif merujuk pada pola cili-cilian dalam hiasan lamak. Kesan ekspresif dan abstrak diperoleh dengan cara sapuan warna yang tampak serbacepat dan kasar. Dari I Nyoman Tusan inilah yang bisa dicatat tentang munculnya seni lukis abstrak (ekspresionis) ala Bali di Bali. Langkah estetik I Nyoman Tusan ini pula yang kemudian mempengaruhi dan menggerakkan seniman muda bali generasi

berikutnya melahirkan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang begitu berkibar dikancah senirupa nasional di tahun 1970 -1980an, menggunakan visual corak modernis sebagai akar rujukan dengan juga mengangkat identitas ke-bali-an dengan njelebret simbol-simbol hinduistik seperti cili-cilian, tamyang, senjata-senjata dewata nawasanga, dan barong-barongan sebagai narasi dalam karya-karya mereka.
Kemudian menjadi pertanyaan bagi seniman-seniman yang tergabung didalam NU Abstract, bagi NU Abstract dalam upaya membaca ulang dan mengkritisi era abstrak di bali dan nasional ternyata memiliki perspektif yang berbeda sebagai pelaku praktek seni lukis abstrak saat ini.

Gaya abstrak demikian lebih cenderung kepada bentuk abstraksi yang memang cukup marak mewarnai senirupa Indonesia saat itu. Kembalinya beberapa pengajar seni yang mengenyam pendidikan luar (Amerika) ke tanah air membawa corak lukisan abstrak dalam praktek lukis mereka, di saat yang sama ada upaya penggalian sumber-sumber lokal, hubungan manusia dan lingkungannya, memproyeksikan emosi dan rasa dalam jiwa, seperti yang dikatakan oleh Sanento Yuliman bahwa seni lukis abstrak indonesia lebih merupakan abstraksi, bukan abstrak murni yang mencoba mencari hakikat seni lukis. Praktek ini juga yang banyak dilakukan di Bali dengan ke-Bali-annya.


Cairnya skena seni kontemporer ternyata membuka peluang upaya menginvestigasi ulang terkait seni lukis abstrak yang menjadi dasar kesadaran seniman yang bergabung didalam NU-Abstract, terutama yang terkait dengan praktek lukisan abstrak dalam mencari hakikat seni lukis itu sendiri. Apakah ke-Bali-an dalam seni lukis abstrak bisa dipakai saat ini dengan cukup menjadikannya corak atau lebih jauh dipahami sebagai bentuk memahami esensi dari identitas bali didalam seni lukis. Seniman didalam NU- Abstract meyakini betul esensi dari sebuah identitas adalah suatu upaya pertahanan dalam memahami jatidiri manusia dalam sejarahnya.

Konsep pemikiran ini lebih lanjut membentuk kesadaran internal baik individu ataupun secara kolektif didalam NU-Abstract, di mana lukisan yang mereka hadirkan juga membawa misi politik melalui bentuk abstrak, salah satunya memperjuangkan seni lukis yang konon dikatakan sudah mati padahal pada kenyataannya seni lukis bangkit berkali-kali, dan lukisan abstrak juga merupakan bagian dari kebangkitan tersebut.Tidak hanya bangkit dalam bentuk namun juga dalam penyodoran konsep.NU-Abstract sendiri terinspirasi oleh gerakan seniman generasi 80-an di New York mengenai "kembali ke lukisan", seniman-seniman NU-Abstract mencoba memunculkan jembatan antara abstraksi radikal dan

investigasi ulang atas sejarah lukisan yang lebih besar dengan pendekatan yang lebih subjektif berpihak pada minoritas. Dalam hal ini NU- abstract mengeksplorasi isyarat, bentuk improvisasi, komposisi relasional, kiasan figure, lanskap, kiasan sejarah, budaya serta permasalahan minoritas terhadap mayoritas ke dalam bentuk lukisan yang mereka hadirkan. Memahami dan mengenali esensi ke-Bali-an untuk membentuk identitas bangsa menjadi amat sangat penting bagi NU-Abstract dalam pertahanan menghadapi bentuk baru perang kebudayaan yang terjadi saat ini.


September 2018,
NU -ABSTRACT